Maria hanya bisa berdiam (bahkan sesekali mengeluarkan secerca air mata) menyimpan pendapat dalam rongga bicara dan pasti akan meluapkannya malam hari tapi bukan kepada siapa-siapa melainkan disebuah buku bahkan terkadang disehelai kertas. BODOH!
Untuk mengeluarkan sepenggal kata elaan pada seseorang saja serasa sedang ingin menumpahkan secangkir teh panas diwajahnya (seola-olah membuatnya marah besar).
Masakan Maria harus terus menerus menyelakakan diri sendiri sedangkan mereka seakan-akan sendirinya menjadi pemenang karena diri Maria mengikuti semua kemauan mereka? Harus setolol inikah?
Betapa bodohnya Maria, meluapkan segala macam perasaan dalam bentuk tulisan (entah itu marah, seang, sedih, bahagia, iri, sakit, dll) seakan diri ini seorang pengecut!
Tidak berani berbicara bebas dengan seseorang (siapapun itu selain Tuhan). Dan ternyata menjadi penakut atau pun pemalu bukanlah hal yang menyenangkan melainkan hal yang menyengsarakan :( BAD
No comments:
Post a Comment